Perkembangan teknik pengendalian gulma

 

                                   Perkembangan teknik pengendalian gulma

Kehadiran gulma di area pertanaman terutama apabila tingkat pertumbuhannya sudah mendekati ambang toleransi tanaman budi daya, maka pengendalian gulma sudah perlu dilakukan. Untuk itu, tentunya perlu diketahui tentang metode/cara pengendalian gulma yang akan diterapkan agar tindakan yang dilakukan tersebut memberikan hasil yang maksimal dan keuntungan. Kesalahan dalam memilih metode/cara pengendalian gulma akan memberikan hasil yang kurang menguntungkan. Pada prinsipnya, gulma yang tumbuh di area pertanaman harus dikelola sedemikian rupa agar tidak merugikan.

Pengelolaan gulma dapat dilakukan dengan cara menerapkan salah satu dari beberapa altematif metode pengendalian gulma yang efektif dan efisien. Salah satu cara pengelolaan gulma sebagai tindakan preventif, ialah melakukan rotasi/pergiliran tanaman, pengelolaan lahan dan air dengan cara menerapkan teknologi yang tepat dan efektif. Budi daya menggunakan tanaman kompetitif (varietas unggul) dan penggunaan herbisida untuk mengendalikan gulma dapat menciptakan keseimbangan lingkungan antara tanaman dengan gulma. Terciptanya lingkungan yang berkualitas bagi tanaman, maka tanaman budi daya akan tumbuh sehat, subur dan akan meningkatkan produktivitas dan hasil tanaman, dengan demikian akan memberikan keuntungan bagi petani.

Ada beberapa metode pengendalian gulma, antara lain: (I) cara manual, (2) cara mekanis, (3) cara kultur teknis, (4) cara biologi, dan (5) cara kimia (Kasasian, 1971). Ke lima metode/cara pengendalian gulma akan dijelaskan, akan tetapi tidak semua metode tersebut dapat diterapkan pada sistem usaha tani di sawah pasang surut. Oleh karena itu, petani harus memilih metode/cara mana yang lebih tepat diterapkan.

1. Cara Manual

Cara manual ialah pengendalian gulma yang dilakukan dengan cara mencabut gulma disebut juga menyiang/merumput (hand weeding) menggunakan tenaga manusia. Cara ini merupakan cara tradisional (konvesional), hasilnya cukup baik dan efektif dan telah berlangsung secara turun temurun. Penyiangan biasanya dilakukan setidak-tidaknya 2 kali per musim tanam/ha, dapat 3 kali tergantung pertumbuhan gulmanya. Pada praktiknya satu kali menyiang memerlukan tenaga kerja sekitar 20-25 HOKJha bahkan dapat lebih tergantung dengan keadaan lahan, tingkat pertumbuhan gulma dan tenaga kerjanya. Oleh karena itu, cara ini memerlukan banyak tenaga kerja, waktu dan biaya sehingga cara ini sangat tidak efisien.

2. Cara Mekanis

Cara mekanis ialah cara pengendalian gulma yang dilakukan dengan menggunakan alat penyiang gulma seperti cangkul dan coret. Di kawasan lahan raw a pasang surut ada alat yang digunakan oleh petani untuk memberantas gulma yang tumbuh di area sawah, yakni "tajak". Tajak adalah alat pertanian tradisional, sejenis parang yang panjangnya sekitar 40-50 em, diberi tangkai yang posisinya hampir tegak lurus antara mata parang dengan tangkainya (Gambar 19). Alat tajak digunakan untuk mengendalikanlmemberantas gulma dikaitkan dengan kegiatan persiapan tanam yakni penyiapan lahan. Tajak tidak digunakan untuk mengendalikan gulma ketika di lahan sawah yang sudah ada pertanaman.


Pengendalian gulma dengan eara mekanis peranan alat penyiang gulma sangat penting. Cara mekanis biasanya dilakukan menggunakan alat-alat pertanian baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan maupun dengan tenaga mesin. Oleh karena itu, perlu dipelajari dan dipahami karakter alat yang akan digunakan,seperti jenis, tipe, bentuk, eara pemakaiannya dan mekanisme kerja (eara kerja) dari alat penyiang tersebut serta gulma sasaran yang akan dikendalikan. Karakateristik alat penyiang gulma yang akan digunakan erat kaitannya dan sangat menentukan dengan hasil kerja yang akan dieapai. Sebelum memahami seeara baik karakter alat penyiang gulma, maka petani akan kesulitan menggunakan alat tersebut.

Kelemahan yang ditemukan pada alat penyiang gulma gasrok dan landak ialah, alat tidak dapat menjangkau gulma yang tumbuh disekitar batang tanaman padi, sehingga gulma yang dekat tanaman padi masih tersisa. Oleh karena itu, untuk membersihkan yang tumbuh di sekitar batang tanaman padi harus dibantu dengan cara manual (dengan tangan) agar diperoleh area yang bersih dari gulma. Ada tambahan kegiatan yang memerlukan tambahan tenaga kerja dan biaya (Simatupang et al., 1996a).

 Penggunaan alat penyiang gulma yang tidak tepat tidak sesuai akan menimbulkan kerugian, dan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap tanaman padi. Salah satu contoh, petani yang ingin melakukan penyiangan gulma menggunakan alat mekanis digerakkan dengan motor (traktor tangan), jika persyaratan penggunaan alat ini tidak terpenuhi terutama jarak tanam tidak teratur akan menyulitkan untuk mengoperasikan alat tersebut. Alat yang digunakan akan merusak terutama akar-akar tanaman dapat putus/terpotong-potong, dan pada keadaan lebih ekstrim tanaman dapat mati. Oleh karena itu, sebelum petani melakukan pengendalian gulma dengan cara mekanis, hal yang perlu dipelajari dan dipahami ialah karakteristik alat, cara kerja alat dan cara penggunaannya. Kemampuan/keterampilan operator juga menjadi perhatian untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

 

3. Cara Kultur Teknis

Jenis-jenis gulma yang tumbuh dan berkembang di area pertanaman dipengaruhi oleh jenis tanaman yang ditanam dan sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut, pengendalian dengan cara kultur teknis harus memerhatikan beberapa karakter tanamanJ tumbuhan, antara lain: (1) ada tanaman budi daya yang memberi efek naungan penuh sangat cepat sehingga dapat menaungi gulma, (2) ada jenis-jenis gulma yang tahan terhadap naungan sehingga dapat bertahan hidup, (3) ada jenis-jenis gulma yang tidak tahan terhadap naungan karena memerlukan sinar matahari penuh, dan (4) ada jenis[1]jenis gulma yang dapat berasosiasi dengan baik terhadap jenis tanaman tertentu. Oleh karena itu, konsep atau prinsip pengendalian gulma dengan cara kultur teknis dapat dilakukan harus mempertimbangkan dan mengacu kepada beberapa karakter tanaman/tumbuhan yang diuraikan di atas.

Pengendalian gulma dengan cara kultur teknis dapat dilakukan dengan menerapkan sistem pertanaman setelah memperhatikan prinsip-prinsip terse but di atas, di antaranya:

 a. pergiliran tanaman (crops rotation), dengan sistem pergiliran tanaman, cara ini dapat memutus siklus hidup jenis tertentu sehingga gulma tersebut tidak berkembang. Biasanya jenis gulma yang tumbuh dapat berassosiasi baik dengan tanaman budidaya yang ditanam,

b. pengaturan jarak tanam, tujuannya agar pertumbuhan tanaman dapat menimbulkan efek naungan (shading effect) terhadap gulma melalui canopi tanaman. Bagi jenis gulma yang tidak tahan naungan akan tertekan pertumbuhannya dan akhimya mati,

 c. penggunaan benih tanaman yang bersih dari biji-biji gulma; tujuannya untuk menghambat berkembangnya jenis gulma yang baru. Benih tanaman yang tidak bersih dari biji-biji gulma dapat menjadi media berkembangnya jenis gulma yang baru, dan gulma tersebut dapat menimbulkan masalah pad a sistem usaha tani berikutnya,

d. pengaturan air dengan cara penggenangan setelah pengolahan tanah, cara ini dapat menekan pertumbuhan gulma pada lahan sawah terutama terhadap jenis gulma yang tidak tahan genangan

e. pengaturan waktu dan cara pemberian pupuk terutama pupuk N juga merupakan tindakan kultur teknis untuk mengendalikan gulma. Chisaka, (1977) dalam Hasanuddin dan Pane, (2003) menjelaskan bahwa pemberian nitrogen dan fosfor akan merangsang pertumbuhan tanaman sehingga daya saingnya lebih tinggi terhadap gulma dan akhimya pertumbuhan gulma tertekan.


4. Cara Biologi

               Pengendaiian cara biologi (biological kontrol) dapat diartikan sebagai suatu aktivitas bertujuan untuk menurunkan populasi dari suatu jenis gulma pada suatu kawasan, misalnya danau atau kawasan yang dipelihara. Upaya yang dilakukan ialah dengan cara memasukkan ke dalamnya suatu organisme hidup atau virus yang dapat membasmi gulma yang tumbuh pada suatu kawasan tersebut. Secara umum ada tiga pendekatan yang dilakukan yakni (a) menggunakan organisme selektif, yakni organisme untuk menyeranglmemakan salah satu atau hanya beberapa jenis gulma yang tumbuh, (b) menggunakan organisme yang tidak selektif, yakni organisme untuk menyerangl memakan seluruh gulma yang tumbuh, dan (c) menggunakan jenis tanaman kompetitor, yakni tanaman yang kompetitif terhadap satu atau lebih faktor kritis pertumbuhan gulma (van Rijn, 2000).

 

5. Cara Kimia

Cara kimia, adalah metode pengendalian gulma yang dilakukan dengan menggunakan bahan kimia, yakni herbisida. Herbisida ialah bahan kimia yang berbahaya, bahan yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan turnbuhan terutama tumbuhan pengganggu (gulma). Bahan kimia (herbisida) telah dikenal sejak tahun 1896, yaitu berupa bubur Bordeux yang digunakan untuk mencegah downy mildow (Bangun dan Pane, 1984). Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia ialah cara yang mengandung bahaya atau risiko terhadap pengguna maupun lingkungannya. Oleh karena itu, dalam penerapannya perlu kehati-hatian untuk meminimalkan risiko. Penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma berkembang pesat karena cara ini cukup efektif untuk menekan pertumbuhan gulma, lebih efisien menggunakan waktu dan tenaga kerja (Hasanuddin dan Pane, 2003). contoh kasus teknik pengendalian gulma :


Komentar

Postingan populer dari blog ini